Tio Tek Hong : Pelopor Industri Musik Indonesia

Memulai tulisan pertama pada website ini, kami rockstarclothing.co.id mencoba berangkat dari titik nol, asal mula industri musik di Indonesia. Berikut ini adalah kisah seorang pengusaha yang menjadi pelopor  industri musik rekaman di Indonesia, yang kerap terlupakan oleh para penikmat musik.

Tahun 1900an, Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda saat itu kerap menikmati musik beraliran jazz dan klasik. Warga pribumi yang kerap mendengar musik saat itu pun, mempunyai hasrat untuk membuat rekaman piringan hitam terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena mereka harus membeli piringan hitam terlebih dahulu jika ingin mendengarkan musik jenis baru. Tio Tek Hong, salah satu saudagar yang memulai mengguluti dunia musik dengan mendirikan sebuah perusahaan rekaman. Sayang tidak setiap lapisan masyarakat Indonesia saat itu dapat menikmati musik lewat piringan hitam, hanya mereka saja yang berada di kaum urban elit. Alat pemutar rekaman yakni phonograph dan gramophone yang terbilang sangat mahal itu lah juga yang membuat lingkup pasar yang terbatas.

Tio Tek Hong adalah pria Tionghoa peranakan, yang telah hidup menghirup udara Batavia sejak tahun 7 Januari 1977. Pria yang juga lahir di Passer Baroe (sekarang Pasar Baru) ini adalah saudagar yang mempunyai beragam toko kelontong di pusat pasar Jakarta saat itu. Masa kecil saudagar ini juga tidak jauh berbeda dengan masa kecil anak pribumi saat itu. Bermain di pinggir kali Pasar Baru, mengadu gundu, bahkan hingga gambaran bahwa ia ingin berenang dari sungai kesayangannya itu sampai ke Gunung Sahari. Selain mendirikan Tio Tek Hong Record, pria Tionghoa peranakan ini juga pernah menulis karya kisah kenangan yang berjudul, Kenang-Kenangan : Riwajat-Hidup Saja dan Keadaan Hidup di Djakarta dari tahun 1882.

Ada keunikan sendiri dari Tio Tek Hong Record ini, yakni setiap awal track pertama pada piringan hitam produksinya dapat terdengar suara rekaman dengan bunyi “Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”. Penyanyi dan kelompok-kelompok musik yang direkam oleh label rekaman ini sangat beragam, sebut saja musik keroncong, musik kasidah, dan tentu saja Tio Tek Hong Record merekam  sandiwara Njai Dasima yang berisikan 5 piringan hitam sekaligus. Tetapi pada faktanya pembelian piringan hitam yang sangat terbatas, disertai alat putarnya yakni gramphone terbilang sangat mahal maka hanya golongan kelas atas saja yang dapat menikmati produksi Tio Tek Hong Record ini. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat dapat menikmati lagu-lagu di pagelaran panggung-panggung hiburan.

Kini karya-karya musisi favorit dapat dinikmati secara mudah oleh setiap lapisan masyarakat Indonesia. Melalui kisah Tio Tek Hong, ia seperti meminjamkan matanya untuk generasi di masa kini maupun mendatang, untuk sejenak melihat kehidupan Jakarta di era 1900an, bukan hanya industri rekaman saja melainkan kehidupan warga Tionghoa peranakan menjalani hidup di kota besar, Jakarta.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *